TENTANG
TUJUAN DAN KOMPONEN KEHIDUPAN YANG
BAIK
Oleh:
KELOMPOK
8 :
1.
Rosmelia Fitri (1300727)
2.
Defry Haryadi
(1302420)
3.
Rivaldo Ichsan(1306226)
Dosen Pembimbing:
Dra.
Izzati, M.Pd
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSTIAS
NEGERI PADANG
2014
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah, penulis ucapkan kehadirat Allah
SWT, yang selalu melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini yang berjudul “TUJUAN DAN
KOMPONEN KEHIDUPAN YANG BAIK”.Penyusunan makalah ini bertujuan untuk menyelesaikan tugas
kelompok mata kuliah FILSAFAT
PENDIDIKAN.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikanterima kasih banyak kepada
semua pihak yang telah membantu proses penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa apapun hasil karya manusia tidak akan pernah bisa
menandingi kesempurnaan Maha karya Allah SWT. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca demi kesempurnaan tulisan ini, sehingga bermanfaat bagi kita semua, khususnya penulis pribadi.
Padang, 20September 2014
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA
PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
I. PENDAHULUAN 1
1.1.
Latar Belakang 1
1.2.
Identifikasi Masalah 2
1.3.
Tujuan 2
II. PEMBAHASAN 3
2.1. Tujuan hidup 3
2.2. Tujuan pendidikan 4
2.3.Prinsip Dasar kehidupan yang
Benar 9
2.4.Penting kehidupan
yang benar manusia dan Pendidikan 11
III.
KESIMPULAN DAN SARAN 12
DAFTAR PUSTAKA 13
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
Tujuan
dari pendidikan adalah untuk membentuk watak dan kepribadian, mampu menumbuhkan
kesadaran yang didasarkan pada ideologi bangsa dan Negara.
Hidup dengan benar berarti setia
berada pada jalan yang benar. Mereka yang sudah memutuskan untuk melakukan apa
yang benar tidak terusik oleh hal-hal sepele atau menyimpang karena memilih
jalan alternatif yang tampaknya lebih menggiurkan. Komitmen untuk hidup dengan
benar menyebabkan mereka tetap berjalan di jalan yang sempit, dan tidak memilih
jalan yang lebih menarik atau menguntungkan. Sebagaimana dicatat dalam Amsal
4:26-27, “Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu.
Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.”
Hidup dengan benar membuahkan
imbalan.Meski imbalan yang diterima tidak selalu merupakan hasil hubungan
sebab-akibat – yaitu kita menerima imbalan yang baik sebagai hasil melakukan
sesuatu yang benar – sering juga imbalan dari menjalankan hidup yang benar kita
terima dalam wujud yang kelihatan.Di samping imbalan nyata, kita juga
berkesempatan mengenyam perasaan bebas dari rasa bersalah, kepuasan karena
pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik, dan rasa hormat dari rekan sekerja
sebagai “imbalan”. Hal ini ditulis dalam Amsal 21:21, “Siapa mengejar kebenaran
dan kasih akan memperoleh kehidupan, kebenaran dan kehormatan”.
1.2.
Identifikasi Masalah
Masalah pokok yang muncul dalam makalah ini
meliputi:
a.
Tujuan
hidup ?
b. Tujuan pendidikan ?
c. Prinsip dasar kehidupan yang benar ?
d. Penting kehidupan yang benar bagi kehidupan manusia dan
pendidikan ?
1.3.
Tujuan
Analisis makalah ini bertujuan untuk:
a.
Mengetahui tujuan hidup.
b. Mengetahui tujuan
pendidikan.
c. Mengetahui prinsip dasar kehidupan yang benar.
d. Mengetahui penting kehidupan yang benar bagi kehidupan
manusia dan pendidikan.
.
BAB II
PEMBAHASAN
2. 1 TUJUAN HIDUP DAN TUJUAN PENDIDIKAN
A. Tujuan hidup
·
Untuk
menjadi manusia yang dapat mengabdi pada sang pencipta
·
Mencari kebenaran yang baik sesuai dengan
filsafat dan ajaran agama yang telah di wahyukan oleh Allah SWT
·
Menjadi manusia seutuhnya dan sebagai penata
sosial yang kuat serta
·
berwibawa
sehingga mampu menjalankan visi dalam kehidupan sebagai manusia utuh.
Dapat mengolah alam semesta yang telah disediakan oleh Tuhan dengan menggunakan akal dan fikiran.
Dapat mengolah alam semesta yang telah disediakan oleh Tuhan dengan menggunakan akal dan fikiran.
·
Menjadi manusia yang sehat jasmani dan rohani,
sehingga terjadi keseimbangan kehidupan di dunia dan ehidupan di akhirat.
B. Tujuan pendidikan
Tujuan dari pendidikan adalah untuk
membentuk watak dan kepribadian, mampu menumbuhkan kesadaran yang didasarkan
pada ideologi bangsa dan Negara.
Komponen-komponen
kehidupan yang baik, yaitu:
A.
Prinsip
dasar hidup yang benar
1. Menghargai dan menjunjung tinggi harkat
dan martabat orang lain.
2. Membiasakan diri mencintai sesama manusia
3. Sabar dan selalu bijaksana dalam
menghadapi masalah dan penuh perhitungan dalam mengambil keputusan.
4. Mempunyai hubungan baik sesama manusia.
5. Peka terhadap rangsangan dan mampu
menahan emosi dan perasaan
6. Dapat mengendalikan diri yang
menunjukan kematangan dan kedewasaan dalam bertindak.
7. Memiliki kesadaran cinta tanah air
dan bangsa.
8. Patuh dan taat kepada Allah agar menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa
9. Melatih dan membiasakan diri dalam
hidup dan pergaulan yang bersifat demokratis.
2.2 KOMPONEN KEHIDUPAN DARI KEHIDUPAN YANG BAIK
A.Prinsip Hidup yang Benar
- Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak mendatangkan manfaat bagi manusia yang lain. [Hadist Nabi]
- 3 Poin penting dalam melakukan sesuatu:
-mulai dari diri sendiri
-mulai dari yang kecil
-mulai dari sekarang.
3. Berusahalah memahami orang lain
dengan menempatkan diri kita sendiri pada posisi orang yang bersangkutan
- Apabila dinasehati janganlah melihat oleh siapa kita dinasehati dan bagaimana orang tersebut menasehati, tetapi perhatikan apa isi nasehat dan mengapa orang menasehati (jangan siapa & bagaimana, lihat apa & mengapa).
- Waktu tidak akan pernah berhenti, maka pergunakanlah sebaik-baiknya! Proyeksikanlah kegiatan-kegiatan kita dalam rencana-rencana, karena gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan.
- Jangan menyakiti orang lain jika kita sendiri tidak mau disakiti. Yang hina itu bukan orang yang dihina tapi orang yang menghina.
- Ingat 5 perkara sebelum 5 perkara:
-Sehat sebelum sakit;
-Muda sebelum tua;
-Kaya sebelum miskin;
-Lapang sebelum sempit;
-Hidup sebelum Mati;
- Nikahilah wanita karena 4 perkara: karena harta bendanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Utamakanlah wanita yang taat kepada agamanya, niscaya kamu akan bahagia.
- Ojo Cedhak Kebo Gupak (Jaga jarak dengan orang/ hal-hal yang dapat mendatangkan madharat).
- Beritahu aku temanmu akan kuberitahu siapa dirimu!
- Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
- Dalam menjalani hidup kejarlah hal-hal yang pasti terjadi, insya Allah hal-hal yang mungkin terjadi dapat kita raih.
- Apabila kita menghadapi masalah yang penting dan masalah yang mendesak, selesaikanlah masalah yang mendesak terlebih dahulu, sebab hal yang penting belum tentu mendesak.
- Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. [Q.S. Alam Nasyrah: 5-7]
- Orang sukses mempunyai kebiasaan mengerjakan hal-hal yang tidak dikerjakan oleh orang-orang gagal. Mereka (orang-orang sukses) belum tentu suka mengerjakannya. Namun ketidaksukaan mereka tunduk pada kekuatan tujuan mereka.
- Orang yang berbakat gagal adalah orang yang mencari-cari alasan atas kegagalannya, sedangkan orang yang berbakat sukses adalah orang yang mencari alasan bagaimana bangkit dari kegagalannya.
- Janganlah kita melihat tokoh dalam mencari kebenaran, tetapi selamilah kebenaran itu sendiri niscaya kita akan mengetahui siapa tokoh di baliknya.
- Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. [QS Al-Baqarah: 216]
- Perumpamaan orang yang bertakwa dalam bertingkah laku adalah seperti berjalan di jalan yang lurus namun banyak duri yang berserakan.
- Jangan biasakan berprasangka, sebab sebagian besar prasangka adalah dusta.
- Dalam berusaha lihatlah orang yang nasibnya lebih bagus dari kita (orang di atas kita), namun dalam hasil lihatlah orang yang nasibnya lebih buruk dari kita (orang di bawah kita).
- Aku telah belajar untuk diam dari orang yang banyak omong, belajar toleran dari orang yang tidak toleran, dan belajar menjadi ramah dari orang yang tak ramah; namun, sungguh aneh, aku tak berterima kasih pada orang-orang ini.
- Hiduplah sesukamu tapi engkau pasti mati; berbuatlah sesukamu tapi pasti engkau dibalas (menurut perbuatanmu itu); cintailah siapa saja tapi engkau pasti akan berpisah dengannya.
- Barang siapa bershalat dalam sehari-harinya duabelas rekaat maka dibangunlah untuknya sebuah rumah di surga; yaitu empat rekaat sebelum Dhuhur, dua rekaat sesudahnya, dua rekaat sesudah Maghrib, dua rekaat sesudah Isya’ dan dua rekaat sebelum shalat Fajar. [HR. Turmudzi]
b. Pentingnya Kehidupan yang Benar
Bagi Kehidupan Manusia dan Pendidikan
Kita kini hidup di era yang menganut
nilai relativisme, suatu masa di mana berlaku ungkapan, “Tidak ada kemutlakan!”
Dalam banyak hal, garis pemisah antara kebenaran dan kekeliruan telah menjadi
kabur, jika tidak ingin dikatakan terhapus sama sekali. Tetapi, jauh di dalam
lubuk hati, kebanyakan dari kita masih tetap dapat membedakan mana yang benar
dan yang salah – paling tidak dalam beberapa aspek kehidupan.
Misalnya, tidak ada satu pun di
antara kita yang rela seseorang mengambil sesuatu yang menjadi milik kita.Kita
tidak suka dibohongi, dan ketidakjujuran cenderung menghancurkan hubungan di
tempat kerja, di rumah, dalam jalinan persahabatan, dan dalam organisasi
kemasyarakatan.Tak seorangpun dapat menerima apabila kerusakan mesin mobil
dijadikan alasan pengalih kecerobohan pengemudi mabuk yang mengakibatkan
seseorang cedera atau meninggal dunia.Kita sepakat memandang sebagai hal yang
tercela, bila seorang eksekutif menjual rahasia perusahaan demi keuntungan
pribadi.Atlet yang “bermain sabun” merekayasa skor pertandingan juga
dikategorikan melakukan tindakan yang salah.Dan masih banyak hal salah lainnya
yang dapat kita sebutkan. Mungkin tidak semua orang sependapat dalam setiap
kasus, namun tampaknya kita semua mempunyai perasaan naluriah mengenai cara
yang benar menjalani hidup – apa yang oleh Alkitab disebut sebagai,
“kebenaran”.
Memandang perasaan tersebut secara
positif, menyebabkan kebanyakan dari kita sependapat bahwa menolong seseorang
yang sedang menghadapi masalah kesehatan, keuangan atau masalah-masalah lain
adalah hal yang “benar”.Jika kita melihat seseorang sedang berada dalam ancaman
serangan secara fisik, adalah tindakan tepat jika kita menolong orang
tersebut.Demikian juga, kebajikan dan kasih, serta kalimat penghiburan dan
dukungan, kita anggap sebagai hal yang “benar” dan dibutuhkan.
Namun, dalam banyak aspek kehidupan masalah
benar dan salah tidak selalu dapat dengan mudah dibedakan. Lalu bagaimana kita
merumuskan apa yang diperlukan untuk membangun suatu “hidup yang benar”
manakala hal yang awalnya terpisah secara jelas dalam pola hitam-putih bergeser
menjadi daerah “abu-abu” yang meragukan? Kitab Amsal memang tidak secara
eksplisit memberikan panduan rinci menghadapi setiap kondisi, namun Kitab ini
menyediakan prinsip dan panduan yang sangat membantu, yaitu:
Hidup dengan benar ditandai oleh
pemilihan jalan yang benar.Seseorang yang menjalani kehidupan pribadi dan
pekerjaannya berdasarkan standar moral dan etika yang tinggi dapat menjadi
inspirasi bagi kita.Tidak jarang kita berusaha mencontoh perilaku terpuji para
tokoh panutan karena bagi kita mereka telah meletakkan standar menjalani
kehidupan dengan benar. Seperti diungkapkan dalam Amsal 4:18-19, “Tetapi jalan
orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang
tengah hari. Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang
menyebabkan mereka tersandung.”
Hidup dengan benar berarti setia
berada pada jalan yang benar. Mereka yang sudah memutuskan untuk melakukan apa
yang benar tidak terusik oleh hal-hal sepele atau menyimpang karena memilih
jalan alternatif yang tampaknya lebih menggiurkan. Komitmen untuk hidup dengan
benar menyebabkan mereka tetap berjalan di jalan yang sempit, dan tidak memilih
jalan yang lebih menarik atau menguntungkan. Sebagaimana dicatat dalam Amsal
4:26-27, “Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu.
Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.”
Hidup dengan benar membuahkan
imbalan.Meski imbalan yang diterima tidak selalu merupakan hasil hubungan
sebab-akibat – yaitu kita menerima imbalan yang baik sebagai hasil melakukan
sesuatu yang benar – sering juga imbalan dari menjalankan hidup yang benar kita
terima dalam wujud yang kelihatan.Di samping imbalan nyata, kita juga
berkesempatan mengenyam perasaan bebas dari rasa bersalah, kepuasan karena
pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik, dan rasa hormat dari rekan sekerja
sebagai “imbalan”. Hal ini ditulis dalam Amsal 21:21, “Siapa mengejar kebenaran
dan kasih akan memperoleh kehidupan, kebenaran dan kehormatan”.
Hidup dengan benar tidak dibangun di
atas dasar perasaan.Ungkapan masa kini berbunyi, “Jika Anda rasa baik, lakukan
saja.”Emosi, tidak selalu dapat diandalkan.Emosi tak jarang memberi arahan yang
keliru.Amarah dapat menyebabkan kita menyerang seseorang, dan itu bukan hal
yang benar.Mungkin perasaan bahwa besar gaji yang kita terima tidak memadai itu
benar, tetapi tidak berarti kita diperkenankan mencuri uang perusahaan. Amsal
16:25 mengingatkan: “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju
maut.”
BAB III
KESIMPULAN
Kita kini hidup di era yang menganut
nilai relativisme, suatu masa di mana berlaku ungkapan, “Tidak ada kemutlakan!”
Dalam banyak hal, garis pemisah antara kebenaran dan kekeliruan telah menjadi
kabur, jika tidak ingin dikatakan terhapus sama sekali. Tetapi, jauh di dalam lubuk
hati, kebanyakan dari kita masih tetap dapat membedakan mana yang benar dan
yang salah – paling tidak dalam beberapa aspek kehidupan.
Misalnya, tidak ada satu pun di
antara kita yang rela seseorang mengambil sesuatu yang menjadi milik kita.Kita
tidak suka dibohongi, dan ketidakjujuran cenderung menghancurkan hubungan di
tempat kerja, di rumah, dalam jalinan persahabatan, dan dalam organisasi
kemasyarakatan.Tak seorangpun dapat menerima apabila kerusakan mesin mobil
dijadikan alasan pengalih kecerobohan pengemudi mabuk yang mengakibatkan
seseorang cedera atau meninggal dunia.Kita sepakat memandang sebagai hal yang
tercela, bila seorang eksekutif menjual rahasia perusahaan demi keuntungan
pribadi.Atlet yang “bermain sabun” merekayasa skor pertandingan juga
dikategorikan melakukan tindakan yang salah.Dan masih banyak hal salah lainnya
yang dapat kita sebutkan. Mungkin tidak semua orang sependapat dalam setiap
kasus, namun tampaknya kita semua mempunyai perasaan naluriah mengenai cara
yang benar menjalani hidup – apa yang oleh Alkitab disebut sebagai,
“kebenaran”.
Memandang perasaan tersebut secara
positif, menyebabkan kebanyakan dari kita sependapat bahwa menolong seseorang
yang sedang menghadapi masalah kesehatan, keuangan atau masalah-masalah lain
adalah hal yang “benar”.Jika kita melihat seseorang sedang berada dalam ancaman
serangan secara fisik, adalah tindakan tepat jika kita menolong orang
tersebut.Demikian juga, kebajikan dan kasih, serta kalimat penghiburan dan
dukungan, kita anggap sebagai hal yang “benar” dan dibutuhkan.
DAFTAR PUSTAKA
Dessy.2008. Prinsip Hidup
90%-10%. Beritanet.com
Robert
Thamsy. 2005. Menemukan Resep untuk Hidup yang Benar. Monday Manna
Sadulloh, U. 2003. Pengantar
Filsafat Pendidikan. CV Alfabeta, Bandung.
Wakhudin
dan Trisnahada.Filsafat Naturalisme. (Makalah) Bandung: PPS-UPI Bandung
Luluvikar.
2004. Apa Tujuan Hidupmu. http/google/tujuanhidup
Tidak ada komentar:
Posting Komentar